Oleh : Fuad Muhammad Zein (IKPM Solo Raya)
Membaca Hikmah Pertama Ibn ‘Athaillah sebagai Cermin Hidup Hari Ini
مِنْ عَلَامَةِ الاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ
“Di antara tanda sikap mengandalkan amal perbuatan ialah berkurangnya harapan kepada Allah subhanahu wa ta‘ala ketika didapati ada kesalahan.”
Ada nasihat pendek yang sering terasa sederhana ketika pertama kali dibaca, tetapi semakin dalam ketika direnungkan. Nasihat itu datang dari Ibn ‘Athaillah al-Sakandari dalam al-Hikam: tanda seseorang masih bersandar kepada amalnya adalah berkurangnya harapan kepada Allah ketika ia melakukan kesalahan.
Artinya, ketika seseorang jatuh dalam dosa lalu hatinya langsung hancur oleh keputusasaan, bisa jadi selama ini ia diam-diam merasa aman karena catatan amalnya sendiri. Begitu catatan itu terasa ternoda, ia merasa seolah tidak ada lagi pintu untuk kembali.
Hikmah ini tidak mengajak manusia meremehkan amal. Islam tidak pernah mengajarkan kemalasan spiritual. Shalat, puasa, sedekah, belajar, bekerja, melayani keluarga, menolong sesama, dan memperbaiki masyarakat tetap merupakan jalan kebaikan. Namun, Ibn ‘Athaillah sedang membenahi letak sandaran hati. Amal harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tetapi keselamatan tidak boleh disandarkan kepada amal itu sendiri.
سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّهُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ
“Berbuatlah dengan benar, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan bergembiralah. Sesungguhnya tidak seorang pun masuk surga karena amalnya semata.” (HR. al-Bukhari No. 5673)
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa amal adalah jalan menuju rahmat Allah, bukan alasan untuk merasa berhak atas surga. Bahkan beliau sendiri menyatakan bahwa dirinya masuk surga karena karunia dan rahmat Allah.
AMAL ITU JALAN, BUKAN ALASAN UNTUK SOMBONG
Dalam kehidupan sehari-hari, peringatan ini terasa sangat dekat.
Banyak orang rajin beramal, tetapi mudah merasa lebih baik daripada orang lain. Ada yang aktif dalam kegiatan sosial, tetapi hatinya mulai menuntut pengakuan. Ada yang tekun beribadah, tetapi menjadi keras kepada mereka yang masih berjuang memperbaiki diri.
Karena itu, setiap amal perlu ditemani muhasabah:
• Apakah kebaikan ini membuatku semakin rendah hati?
• Apakah aku semakin dekat kepada Allah?
• Apakah aku semakin lembut kepada sesama?
Jika amal membuat hati semakin sombong, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
BAHAYA ZAMAN YANG SERBA MENGHITUNG
Hari ini kita hidup dalam budaya angka.
Jumlah pengikut dihitung.
Jumlah penonton dihitung.
Jumlah penghargaan dihitung.
Bahkan kebaikan sering ikut dihitung.
Tidak semua dokumentasi dan publikasi itu salah. Namun hati harus dijaga agar pelaporan kebaikan tidak berubah menjadi pencitraan kebaikan.
Di media sosial, seseorang bisa terlihat saleh tanpa sungguh-sungguh memperbaiki hati. Ia bisa tampak peduli tanpa benar-benar hadir dalam penderitaan orang lain.
Karena itu pertanyaan terpenting bukan:
“Sudah berapa banyak kebaikan yang kulakukan?”
Tetapi:
“Apakah kebaikan itu membuat hatiku semakin jernih?”
AL-QUR'AN MENUNJUKKAN ARAH
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-'Ashr: 1–3)
Ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh harus berakar pada iman dan melahirkan manfaat bagi sesama manusia.
Kesalehan ritual harus melahirkan kesalehan sosial.
Ibadah harus menghadirkan akhlak.
Ilmu harus melahirkan kelembutan.
MUHASABAH DIRI
Renungkan pertanyaan berikut:
1. Apakah amal baikku membuatku semakin rendah hati atau justru merasa lebih baik dari orang lain?
2. Apakah aku beramal karena Allah atau karena ingin dipuji manusia?
3. Ketika menasihati orang lain, apakah yang berbicara kasih sayang atau ego?
4. Apakah kebaikan yang kulakukan benar-benar memberi manfaat?
5. Ketika jatuh dalam kesalahan, apakah aku segera kembali kepada Allah atau malah putus asa?
6. Apakah aku lebih sibuk menghitung amal daripada memperbaiki niat?
PENUTUP
Hikmah pertama Ibn ‘Athaillah mengajarkan bahwa amal saleh adalah jalan yang harus ditempuh, tetapi rahmat Allah adalah sandaran yang tidak boleh dilepaskan.
Jangan berhenti beramal.
Tetapi berhentilah membanggakan amal.
Jangan meremehkan dosa.
Tetapi jangan pula berputus asa dari ampunan-Nya.
Semoga setiap kebaikan yang kita lakukan tidak membuat kita lupa diri, melainkan semakin mengenalkan kita kepada kelemahan diri dan keluasan rahmat Allah subhanahu wa ta‘ala.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar