Oleh : Fuad Muhammad Zein (IKPM Solo Raya)
Setiap kali 10 Muharram datang, umat Islam diingatkan pada satu momentum penting: waktu terus berjalan, tahun berganti, umur bertambah dalam hitungan angka, tetapi sesungguhnya jatah hidup kita semakin berkurang.
Muharram bukan sekadar awal tahun dalam kalender Hijriyah. Ia adalah pintu muhasabah. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan, lalu bertanya kepada diri sendiri: ke mana waktu hidup ini sedang kita arahkan?
Di antara surah pendek yang paling kuat mengingatkan manusia tentang waktu adalah QS. Al-‘Ashr:
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Ayat ini pendek, tetapi isinya sangat mengguncang. Allah bersumpah dengan waktu. Dalam Al-Qur’an, ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, berarti di dalamnya terdapat pelajaran besar.
Allah bersumpah dengan malam, dengan waktu duha, dengan fajar, dan dalam surah ini Allah bersumpah dengan al-‘ashr, yaitu masa atau waktu. Ini menunjukkan bahwa waktu bukan perkara kecil dalam kehidupan manusia.
Sebagaimana dijelaskan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir Mafātīḥ al-Ghayb, sumpah Allah dengan al-‘ashr menunjukkan bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat agung.
Waktu adalah wadah berlangsungnya seluruh amal manusia. Di dalam waktulah manusia beriman atau ingkar, berbuat baik atau buruk, mendekat kepada Allah atau justru menjauh dari-Nya.
Karena itu, menurut ar-Razi, waktu menjadi aset utama manusia yang terus berkurang. Jika waktu tidak diisi dengan iman dan amal saleh, ia akan berubah menjadi sumber kerugian.
Penjelasan ar-Razi ini membuat kita memahami bahwa QS. Al-‘Ashr bukan hanya berbicara tentang pentingnya mengatur jadwal.
Surah ini berbicara tentang keselamatan hidup. Allah tidak sekadar mengingatkan agar manusia tidak terlambat, tidak menunda pekerjaan, atau tidak malas.
Lebih dari itu, Allah mengingatkan bahwa hidup manusia berada dalam bahaya kerugian, kecuali jika waktunya diselamatkan dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.
Mengapa manusia disebut berada dalam kerugian? Sebab setiap manusia sedang kehilangan sesuatu setiap hari. Ia kehilangan detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun.
Semua yang hilang dari harta mungkin masih bisa dicari kembali. Barang yang hilang mungkin bisa diganti.
Tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa dipanggil kembali. Hari kemarin telah menjadi masa lalu. Usia yang lewat telah menjadi catatan. Kesempatan yang disia-siakan sering kali hanya meninggalkan penyesalan.
Imam al-Ghazali dalam Bidāyah al-Hidāyah memberikan nasihat yang sangat dalam. Beliau menjelaskan bahwa waktu adalah umur manusia, dan umur adalah modal utama dalam perjalanan menuju Allah.
Setiap tarikan napas adalah permata yang tidak ternilai. Jika ia telah hilang, ia tidak mungkin diganti.
Karena itu, al-Ghazali mengingatkan agar manusia tidak tertipu oleh bertambahnya harta sementara usianya terus berkurang. Yang layak membuat seseorang bergembira bukan sekadar bertambahnya harta, tetapi bertambahnya ilmu dan amal.
Nasihat al-Ghazali ini sangat tepat untuk direnungkan pada 10 Muharram. Tahun baru Hijriyah sering dipahami sebagai pergantian angka dalam kalender.
Padahal, bagi seorang mukmin, pergantian tahun adalah peringatan bahwa modal hidup semakin berkurang. Jika tahun lalu berlalu tanpa banyak perubahan, maka tahun ini tidak boleh dibiarkan berjalan dengan kelalaian yang sama.
10 Muharram atau Hari Asyura menjadi momentum yang sangat tepat untuk merenungi hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan puasa Asyura.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa puasa Asyura diharapkan menjadi sebab diampuninya dosa setahun yang telah lalu. Ini mengajarkan bahwa waktu tertentu memiliki keutamaan tertentu.
Ada hari-hari yang Allah jadikan sebagai kesempatan besar untuk kembali kepada-Nya. Maka, orang yang cerdas secara spiritual adalah orang yang peka terhadap kesempatan.
Namun, keutamaan 10 Muharram tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus menjadi pintu pembaruan hidup.
Jika tahun lalu banyak waktu habis dalam kelalaian, maka Muharram ini harus menjadi awal untuk memperbaiki arah.
Jika selama ini shalat sering ditunda, pekerjaan sering diabaikan, keluarga kurang diperhatikan, ilmu jarang ditambah, dan hati semakin jauh dari Allah, maka 10 Muharram adalah saat yang baik untuk memulai kembali.
4 Jalan Menghindari Kerugian
QS. Al-‘Ashr memberi empat jalan agar manusia tidak menjadi orang yang rugi.
Pertama, iman. Waktu harus dibangun di atas kesadaran kepada Allah. Tanpa iman, waktu hanya akan berubah menjadi rutinitas kosong.
Manusia bangun, bekerja, makan, tertawa, lelah, tidur, lalu mengulang hari yang sama tanpa arah ruhani. Iman memberi makna bahwa setiap detik hidup berada dalam pengawasan Allah.
Kedua, amal saleh. Iman tidak cukup berhenti di hati. Ia harus tampak dalam perbuatan.
Amal saleh bukan hanya ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga bekerja dengan jujur, mendidik anak dengan sabar, membantu tetangga, menjaga lisan, menunaikan amanah, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Waktu yang diisi amal saleh akan berubah menjadi tabungan akhirat.
Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran. Manusia tidak hidup sendiri. Kita mudah lemah, mudah lupa, dan mudah terbawa arus.
Karena itu, Allah menyebut keselamatan manusia bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga sosial. Kita perlu lingkungan yang saling mengingatkan. Keluarga perlu saling menjaga. Masyarakat perlu saling menuntun. Kebenaran tidak cukup diketahui, tetapi harus dihidupkan bersama.
Keempat, saling menasihati dalam kesabaran. Kebenaran sering membutuhkan kesabaran.
Menjadi baik itu butuh sabar. Menjaga shalat butuh sabar. Mendidik keluarga butuh sabar. Menghindari maksiat butuh sabar. Bahkan memperbaiki kebiasaan buruk juga butuh sabar.
Karena itu, orang yang ingin selamat dari kerugian waktu tidak cukup hanya tahu mana yang benar, tetapi harus sabar menjalaninya.
Sebagian ulama menyebut bahwa jika manusia benar-benar memahami QS. Al-‘Ashr, maka surah ini cukup menjadi nasihat besar baginya.
Sebab seluruh jalan keselamatan hidup diringkas dalam tiga ayat: memperbaiki hubungan dengan Allah melalui iman, memperbaiki diri melalui amal saleh, memperbaiki masyarakat melalui nasihat kebenaran, dan menjaga semua itu dengan kesabaran.
Renungan Relevansi Hari ini
Renungan tentang waktu menjadi semakin penting pada zaman sekarang. Kita hidup di masa ketika waktu sering habis bukan karena pekerjaan besar, tetapi karena gangguan kecil yang terus berulang.
Ponsel di tangan membuat manusia bisa kehilangan berjam-jam tanpa terasa. Media sosial, tontonan pendek, percakapan yang tidak perlu, permainan daring, dan berbagai hiburan digital dapat menyedot perhatian kita secara halus.
Kita merasa hanya membuka layar sebentar, tetapi “sebentar” yang berulang akhirnya menjadi jam-jam panjang yang hilang tanpa makna.
Di sinilah QS. Al-‘Ashr terasa sangat relevan. Allah tidak hanya mengingatkan manusia zaman dahulu, tetapi juga manusia modern.
Hari ini banyak orang sibuk, tetapi tidak selalu produktif. Banyak orang terhubung secara digital, tetapi hatinya sepi. Banyak orang mengetahui banyak informasi, tetapi sedikit merenung.
Banyak orang mengejar kesenangan, tetapi kehilangan ketenangan. Padahal waktu yang tidak diisi dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran akan mudah berubah menjadi kerugian.
Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dalam Madārij as-Sālikīn menjelaskan bahwa bagi seorang ahli ibadah, waktu adalah kesempatan untuk beribadah dan berdzikir. Bagi seorang murid yang berjalan menuju Allah, waktu adalah kesempatan untuk memusatkan hati kepada Allah.
Karena itu, beliau menggambarkan kehilangan waktu sebagai kehilangan yang sangat berat. Waktu yang telah lewat tidak dapat disusul lagi, sebab waktu berikutnya sudah memiliki tugas dan haknya sendiri.
Dari sini kita belajar bahwa menyesal atas waktu yang hilang memang baik, tetapi jangan sampai penyesalan itu justru membuat kita kehilangan waktu berikutnya.
Ada ungkapan yang sangat indah dari Ibn al-Qayyim: “Sibuk dengan penyesalan karena waktu yang sia-sia adalah bentuk menyia-nyiakan waktu yang sedang berjalan.”
Artinya, penyesalan harus berubah menjadi taubat dan perbaikan. Jika penyesalan hanya membuat seseorang larut dalam kesedihan tanpa tindakan, maka ia sedang menambah kerugian baru.
Para ulama terdahulu sangat menjaga waktu. Ibnu ‘Aqil, sebagaimana dikutip oleh Ibn al-Jawzi dalam al-Muntaẓam, pernah menyatakan bahwa ia tidak menghalalkan waktunya sia-sia meskipun hanya satu jam.
Jika lisannya tidak dapat digunakan untuk berdiskusi, dan matanya tidak dapat digunakan untuk membaca, ia menggunakan pikirannya untuk merenung. Ini menunjukkan bahwa waktu bagi para ulama bukan sekadar jadwal, tetapi amanah ilmu dan amal.
Betapa jauhnya keadaan itu dengan sebagian kehidupan kita hari ini. Banyak waktu habis bukan untuk membaca, bukan untuk berpikir, bukan untuk ibadah, bukan untuk keluarga, tetapi untuk hal-hal yang bahkan setelah selesai tidak meninggalkan manfaat apa-apa.
Kita sering merasa lelah, tetapi tidak selalu karena amal. Kita sering merasa sibuk, tetapi tidak selalu karena kebaikan. Kita sering merasa kekurangan waktu, padahal sebagian waktu kita habis untuk perkara yang tidak perlu.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga bersumpah dengan waktu fajar, malam, dan duha. Sebagaimana dijelaskan ar-Razi ketika menafsirkan ayat-ayat sumpah dengan waktu, pergantian malam dan siang menunjukkan kebijaksanaan Allah dalam mengatur kehidupan manusia.
Malam menjadi ruang istirahat dan ketenangan, sedangkan siang menjadi ruang gerak dan usaha. Ini berarti waktu mengajarkan keseimbangan: ada saat untuk bekerja, ada saat untuk beristirahat, ada saat untuk beribadah, ada saat untuk keluarga, dan ada saat untuk merenungi diri.
Maka, 10 Muharram seharusnya menjadi hari untuk bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah waktu kita lebih banyak membawa kita kepada Allah? Sudahkah umur kita bertambah dalam ketaatan? Sudahkah rumah kita menjadi tempat tumbuhnya iman? Sudahkah pekerjaan kita menjadi ladang amal? Sudahkah ilmu kita membuat kita rendah hati? Sudahkah media sosial kita gunakan untuk kebaikan, bukan untuk kelalaian?
Muharram adalah bulan mulia. Asyura adalah hari yang utama. Tetapi kemuliaan waktu tidak akan memberi dampak apa-apa jika manusia tidak mengisinya dengan kesadaran.
Waktu yang mulia membutuhkan hati yang sadar. Hari yang istimewa membutuhkan amal yang nyata. Momentum yang besar membutuhkan keputusan untuk berubah.
Pada akhirnya, QS. Al-‘Ashr mengajarkan bahwa hidup ini sederhana tetapi serius. Semua manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang menjaga empat hal: iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.
Maka, ketika 10 Muharram hadir, mari kita jadikan ia bukan hanya sebagai hari puasa, tetapi juga hari muhasabah.
Bukan hanya hari mengenang sejarah, tetapi hari memperbaiki arah. Bukan hanya awal tahun Hijriyah yang lewat dalam kalender, tetapi awal tekad baru untuk menggunakan waktu dengan lebih baik.
Semoga Allah memberkahi umur kita, mengampuni waktu-waktu yang telah kita sia-siakan, dan membimbing kita agar sisa umur yang masih ada menjadi jalan menuju ridha-Nya.
Sebab waktu yang berlalu tidak akan kembali, tetapi pintu taubat masih terbuka selama kita mau kembali kepada Allah. Wallahu A’lam bi ash showab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar