Akal dan Fitrah: Dua Jalan yang Saling Menguatkan dalam Membangun Akhlak (Membaca gagasan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah tentang hubungan pengetahuan, fitrah, dan pembentukan nilai moral)

 


Akhlak tidak cukup dibangun hanya dengan kecerdasan rasional, dan tidak pula cukup dengan dorongan moral yang belum diarahkan. Dalam pembacaan atas Ibn al-Qayyim, akal berfungsi memahami, menimbang, dan mengarahkan; fitrah menjaga kecenderungan manusia kepada kebaikan dan ketundukan kepada Allah. Keduanya membutuhkan ilmu dan petunjuk wahyu.

Ketika Orang Berilmu Belum Tentu Berakhlak

Kita hidup pada masa ketika akses terhadap pengetahuan semakin mudah. Informasi tentang apa yang baik dan buruk dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan memperoleh pengetahuan tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral. Seseorang dapat mengetahui bahwa kejujuran itu baik, tetapi tetap berbohong, memahami bahaya keserakahan, tetapi tetap mengejar keuntungan dengan mengorbankan orang lain, bahkan mengetahui ajaran agama, tetapi tidak selalu mampu menerjemahkannya menjadi perilaku. Persoalan ini membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar, dari mana sebenarnya nilai moral manusia dibangun, dan apa yang membuat pengetahuan berubah menjadi tindakan yang baik?

Dalam tradisi pemikiran Islam, salah satu jawaban penting dapat ditemukan dalam gagasan tentang hubungan antara akal dan fitrah. Materi yang menjadi dasar tulisan ini menempatkan tiga konsep sebagai pusat pembahasan, yaitu akal, fitrah, dan akhlak. Akal dipahami sebagai sarana utama untuk memahami realitas serta membedakan yang benar dan yang salah, sedangkan fitrah dipahami sebagai ciptaan Allah yang mengandung kecenderungan kepada pengenalan, kecintaan, dan ketundukan kepada-Nya. Akhlak, pada sisi lain, merupakan keadaan jiwa yang relatif menetap sehingga darinya tindakan muncul dengan mudah tanpa selalu memerlukan pertimbangan panjang.

Akal Bukan Sekadar Kecerdasan

Dalam pembacaan terhadap Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, akal tidak semata-mata berarti kecerdasan atau kemampuan berpikir cepat. Akal memiliki fungsi normative. Ia membantu manusia memperoleh pengetahuan, memahami kenyataan, menimbang manfaat dan mudarat, serta membedakan yang benar dari yang salah. Karena itu, kemampuan intelektual baru memiliki arti moral apabila diarahkan kepada pengetahuan yang benar dan menghasilkan pilihan yang benar. Dengan kata lain, seseorang dapat memiliki kemampuan berpikir yang tinggi, tetapi kemampuan tersebut belum dengan sendirinya menjamin lahirnya kebijaksanaan moral.

Gagasan tersebut dapat dibaca melalui penafsiran Ibn al-Qayyim terhadap firman Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 44:

«أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ».

Ayat ini menarik karena persoalannya bukan semata-mata ketidaktahuan. Orang yang ditegur mengetahui kitab dan bahkan memerintahkan kebaikan kepada orang lain, tetapi gagal menerapkan kebaikan itu pada dirinya. Di sini akal tampil sebagai kemampuan yang semestinya menghubungkan pengetahuan dengan tindakan. Pengetahuan yang tidak membentuk pilihan hidup menunjukkan adanya persoalan pada fungsi akal sebagai penuntun moral.

Mengapa Maksiat Dikaitkan dengan Rusaknya Akal?

Ibn al-Qayyim bahkan menggunakan ungkapan yang sangat kuat:

"المَعَاصِى تُفْسِدُ العَقْلَ، فَإِنَّ لِلْعَقْلِ نُوْرًا، وَالمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ نُوْرُ العَقْلِ ولا بد، وَإِذَا طُفِئَ نُوْرُهُ ضَعُفَ وَ نَقُصَ"

Maksiat merusak akal karena akal memiliki cahaya, sedangkan maksiat memadamkan cahaya tersebut sehingga ia melemah dan berkurang. Pernyataan ini tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang yang berbuat dosa kehilangan kemampuan intelektualnya secara biologis. Yang dimaksud lebih dekat pada kerusakan fungsi moral dan kejernihan penilaian. Manusia mengetahui sesuatu sebagai buruk, tetapi dorongan sesaat membuatnya memilih sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan itu.

Gagasan tersebut menjadi sangat relevan dalam kehidupan modern. Kita dapat mengetahui bahwa menipu pelanggan itu salah, tetapi keuntungan sesaat dapat membuat seseorang mengabaikan pengetahuan tersebut. Kita tahu bahwa menyebarkan berita yang belum terverifikasi dapat merugikan orang lain, tetapi dorongan untuk menjadi orang pertama yang membagikannya dapat mengalahkan kehati-hatian. Dalam kerangka Ibn al-Qayyim, persoalannya bukan hanya kurangnya informasi, melainkan ketidakharmonisan antara pengetahuan, pertimbangan akal, dan kehendak moral.

Fitrah: Kecenderungan Awal kepada Kebenaran

Di sinilah konsep fitrah menjadi penting. Al-Qur'an menyatakan dalam QS. Al-Rum ayat 30:

«فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ»

Ayat ini menjadi salah satu landasan utama pembahasan fitrah dalam tradisi Islam. Dalam materi sumber, fitrah dipahami sebagai ciptaan awal Allah pada diri manusia yang membawa kesiapan untuk mengenal dan tunduk kepada-Nya.

Ibn Taymiyyah memberikan penjelasan penting bahwa fitrah berkaitan dengan kesiapan manusia menerima kebenaran dan pengenalan kepada Allah. Ia menghubungkan fitrah dengan Islam dan tauhid, sekaligus menjelaskan bahwa lingkungan, keyakinan, dan kebiasaan dapat memengaruhi atau mengubah arah fitrah tersebut. Dengan demikian, fitrah bukan berarti manusia secara otomatis akan selalu berbuat baik tanpa pendidikan. Fitrah lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan dan kesiapan awal yang membutuhkan pemeliharaan, pengarahan, dan penguatan.

Akal dan Fitrah Bukan Dua Kekuatan yang Bertentangan

Salah satu gagasan paling menarik dari materi ini adalah bahwa akal dan fitrah tidak ditempatkan sebagai dua sumber yang saling berlawanan. Keduanya justru bekerja secara komplementer. Akal membantu manusia memahami realitas, menimbang manfaat dan mudarat, serta mengolah pengetahuan. Fitrah menjaga orientasi batin agar pencarian pengetahuan tidak kehilangan arah moral dan spiritual. Dalam bahasa sederhana, akal membantu manusia mengetahui bagaimana memilih, sedangkan fitrah memberi kecenderungan untuk memilih apa yang sesuai dengan kebaikan dan ketundukan kepada Allah.

Ibn al-Qayyim menegaskan hubungan tersebut ketika menyatakan bahwa Al-Qur'an, Sunnah, fitrah, dan dalil-dalil akal menunjukkan bahwa Allah menciptakan alam dengan kebenaran dan tujuan, bukan secara sia-sia. Dalam konteks ini, akal tidak diposisikan sebagai pesaing wahyu. Sebaliknya, kemampuan rasional manusia dipandang dapat mengenali keteraturan, tujuan, dan kebenaran yang kemudian diteguhkan oleh petunjuk wahyu. Ini memberi gambaran epistemologis yang khas, di mana kebenaran tidak dibangun dengan memisahkan akal dari wahyu dan fitrah, tetapi dengan menempatkan ketiganya dalam hubungan yang saling menguatkan.

Bagaimana Integrasi Itu Bekerja dalam Kehidupan?

Pertama, akal digunakan untuk memahami realitas. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perlu mengetahui konsekuensi dari suatu tindakan sebelum mengambil keputusan. Pedagang perlu memahami dampak kecurangan terhadap konsumen, pemimpin perlu memahami dampak keputusan terhadap masyarakat, pengguna media sosial perlu memahami akibat menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Pengetahuan semacam ini membutuhkan kerja intelektual.

Kedua, fitrah memberikan orientasi moral-spiritual. Pengetahuan tentang akibat suatu tindakan belum tentu membuat seseorang mau melakukan yang benar. Di sinilah dorongan untuk mencintai kebaikan, merasa bertanggung jawab kepada Allah, dan tunduk kepada-Nya menjadi penting. Ketiga, ilmu dan refleksi harus terus digunakan untuk memelihara fitrah. Fitrah dapat terpengaruh oleh kebiasaan buruk, lingkungan, dan dorongan hawa nafsu, karena itu manusia membutuhkan pendidikan, pengawasan diri, dan petunjuk Allah.

Keempat, integrasi tersebut akhirnya harus tampak dalam akhlak. Ukuran keberhasilan bukan sekadar banyaknya pengetahuan yang dimiliki, melainkan sejauh mana pengetahuan dan kesadaran spiritual menghasilkan karakter yang baik. Sabar, jujur, amanah, kasih sayang, dan kemampuan mengendalikan diri bukan hanya konsep yang diketahui, tetapi sifat yang terus dilatih hingga menjadi bagian dari kepribadian.

Relevansinya bagi Pendidikan Hari Ini

Gagasan ini mempunyai implikasi penting bagi pendidikan. Pendidikan tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan. Sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi perlu membangun kemampuan berpikir sekaligus karakter moral. Peserta didik perlu dilatih untuk bertanya, menalar, memeriksa bukti, dan memahami realitas; pada saat yang sama mereka perlu dibimbing untuk menghubungkan pengetahuan dengan tanggung jawab kepada Allah dan sesama manusia.

Dalam konteks ini, pendidikan agama dan pendidikan intelektual tidak semestinya diperlakukan sebagai dua dunia yang terpisah. Pengajaran agama yang tidak melatih daya pikir dapat kehilangan kemampuan menjawab kompleksitas persoalan nyata. Sebaliknya, pendidikan intelektual yang tidak memiliki orientasi moral berisiko menghasilkan kecakapan yang tidak selalu diarahkan kepada kebaikan. Integrasi akal dan fitrah menawarkan cara pandang bahwa kecerdasan perlu diarahkan oleh nilai, sementara nilai perlu dipahami dan dihidupkan melalui kesadaran intelektual.

Penutup: Menyatukan Pengetahuan, Kesadaran, dan Akhlak

Pada akhirnya, gagasan Ibn al-Qayyim yang dibaca melalui materi ini mengajak kita keluar dari pemahaman sempit tentang akhlak. Akhlak bukan sekadar daftar aturan tentang perilaku baik dan buruk. Ia berkaitan dengan kondisi jiwa, kualitas pengetahuan, kejernihan pertimbangan, dan arah spiritual manusia. Akal membantu manusia memahami dan menimbang, fitrah menjaga kecenderungan kepada kebaikan dan ketundukan kepada Allah, ilmu dan wahyu memberi arah, sedangkan latihan moral menerjemahkan semuanya menjadi karakter.

Karena itu, tantangan terbesar pendidikan moral bukan hanya membuat manusia mengetahui kebaikan, tetapi membantu mereka mencintai, memilih, dan mengamalkan kebaikan. Di sinilah integrasi akal dan fitrah memperoleh maknanya. Manusia yang berakal bukan hanya manusia yang mampu berpikir, tetapi manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk menemukan kebenaran dan mengarahkan kehendaknya kepada kebaikan. Dan manusia yang menjaga fitrahnya bukan sekadar manusia yang memiliki kecenderungan spiritual, tetapi manusia yang memelihara kecenderungan itu melalui ilmu, penghayatan, dan amal.



Posting Komentar

0 Komentar